BMKG-DPR RI Gelar SLI Tematik, Dorong Petani Cermat Iklim
BMKG-DPR RI Gelar SLI Tematik 2026 berlangsung di Kantor UPTD Pengelolaan Pertanian dan Perikanan Karawang Timur, Selasa 29 September 2026. --- Foto: Awan News/Dharto-Biro_Jabar
AWAN NEWS, Karawang-Jawa Barat | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama DPR RI menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik 2026 di Kantor UPTD Pengelolaan Pertanian dan Perikanan (UPTD PP) Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya petani, terhadap informasi iklim dan cuaca yang dikeluarkan BMKG. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan dalam menentukan waktu tanam, pengelolaan lahan, hingga mengantisipasi dampak perubahan dan variabilitas iklim.
Ketua Tim Diseminasi dan Layanan Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rima, mengatakan Sekolah Lapang Iklim menjadi sarana untuk mendekatkan informasi BMKG kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
"Tujuannya agar masyarakat bisa memahami informasi yang diberikan BMKG terkait prediksi hujan, musim, dan informasi iklim mau pun cuaca," kata Rima.
Menurut dia, informasi iklim tidak hanya ditujukan untuk masyarakat, tetapi juga dapat dimanfaatkan para pemangku kepentingan sebagai bahan perencanaan di berbagai sektor, termasuk pertanian dan pangan.
"Informasi iklim ini tujuannya untuk digunakan stakeholder sehingga bisa dimanfaatkan untuk perencanaan seperti sektor pertanian, pangan dan lainnya," ujarnya.
Rima menambahkan, BMKG berupaya agar informasi iklim dapat diterima masyarakat secara cepat dan tepat sasaran. Hal itu penting karena kondisi iklim terus mengikuti dinamika atmosfer.
"Tujuannya agar informasi yang diberikan BMKG ini lebih cepat dan tepat sasaran, sehingga masyarakat langsung memahami apa itu variabilitas iklim. Sebab, iklim itu banyak perubahannya mengikuti dinamika atmosfer," jelasnya.
Dia mengakui sejumlah istilah meteorologi dan klimatologi yang digunakan BMKG masih terdengar teknis bagi masyarakat, seperti El Nino dan fenomena iklim lainnya.
"Memang sebenarnya istilah-istilah di BMKG itu agak sulit karena bahasa teknis, seperti El Nino," katanya.
Rima menjelaskan, fenomena El Nino dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Dalam kondisi tertentu, fenomena tersebut dapat menyebabkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia berkurang.
Untuk wilayah Kabupaten Karawang yang berada di bagian utara Jawa Barat, kondisi tersebut menjadi perhatian karena secara klimatologi wilayah utara Jawa Barat cenderung memiliki curah hujan lebih rendah, terutama pada musim kemarau.
"Karawang secara normalnya hujan akan terjadi sekitar bulan November 2026. Namun, karena adanya fenomena ini, datangnya hujan bisa mengalami perlambatan," ungkap Rima.
Kepala UPTD Pengelolaan Pertanian dan Perikanan Kecamatan Karawang Timur, Intan Triana, mengatakan pelaksanaan SLI Tematik 2026 diharapkan dapat membantu petani memperoleh informasi mengenai kondisi cuaca dan iklim, termasuk dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem serta kekurangan air.
Intan menyebut kegiatan tersebut mendapat dukungan melalui aspirasi Wakil Ketua Komisi V DPR RI dari FPKB, Syaiful Huda.
"Melalui Dewan Pusat PKB, Saipul Huda memberikan bantuan melalui aspirasinya," kata Intan.
Menurutnya, pemahaman terhadap informasi cuaca sangat penting bagi petani, terutama untuk menentukan waktu yang tepat dalam mengolah lahan dan memulai penanaman padi.
Selama ini, kata dia, sebagian petani terkadang langsung mengolah tanah hanya karena melihat hujan turun meski intensitasnya masih rendah. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan tanaman gagal tumbuh apabila hujan berikutnya tidak segera turun.
"Selama ini kita tidak mengikuti kalender tanam. Kalau melihat air sedikit, langsung olah tanah. Padahal, kalau kita melihat acuan dari BMKG akan lebih bagus karena BMKG punya data kapan hujan lebat akan datang," ujarnya.
"Kalau baru melihat hujan gerimis sedikit lalu langsung olah tanah, nanti bisa gagal tumbuh karena kurang air," lanjut Intan.
Dia berharap para peserta SLI dapat memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai informasi iklim sehingga ke depan dapat berkolaborasi dengan BMKG dan menggunakan data sebagai penunjang dalam menentukan waktu tanam.
"Diharapkan petani yang mengikuti Sekolah Lapang Iklim mempunyai pengetahuan dan informasi sehingga ke depannya bisa berkolaborasi dengan BMKG menggunakan data penunjang, termasuk menentukan kapan mulai tanam berdasarkan informasi cuaca," katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Banyu Sakti 2, Dedi Marsono, mengatakan kegiatan SLI memberikan manfaat langsung bagi petani karena membantu menentukan waktu tanam dan memperkirakan kondisi hujan.
"Adanya Sekolah Lapang Iklim ini sangat membantu para petani untuk mengetahui kapan akan tanam dan kapan hujan turun," kata Dedi.
Namun, Dedi mengingatkan pengelolaan lahan juga harus mempertimbangkan ketersediaan air di wilayah masing-masing.
Menurut dia, petani perlu berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memastikan ketersediaan air sebelum memaksakan peningkatan indeks pertanaman.
"Kalau memaksakan kehendak, harus dilihat dulu dan ditanyakan kepada BBWS apakah ada air di wilayah kita," ujarnya.
Sebagai ketua kelompok tani, Dedi mengaku menargetkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) hingga 2,5 di wilayah Kelurahan Plawad. Target tersebut diharapkan dapat mendorong produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Untuk mencapai target tersebut, dia menekankan pentingnya efisiensi penggunaan air.
"Kita jangan boros air, harus tepat sasaran. Saya bersama PPL akan bekerja sama mengarahkan petani agar jangan menghambur-hamburkan air. Penggunaan air harus bergantian setiap kelompok tani agar tepat sasaran," katanya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi kondisi ketika pasokan air terbatas maupun ketika curah hujan tidak mencukupi kebutuhan pertanian.
Dedi menyebut saat ini terdapat 16 kelompok tani di Kelurahan Plawad. Menurutnya, keberadaan SLI membantu kelompok tani dalam menentukan waktu yang lebih tepat untuk memulai kegiatan tanam.
Dengan pemanfaatan informasi BMKG dan koordinasi antarpetani serta penyuluh pertanian, dia berharap pengelolaan air dan pola tanam di wilayah tersebut dapat dilakukan secara lebih terukur.
"Saya sangat terbantu dengan adanya SLI ini untuk menentukan kapan akan mulai tanam," pungkasnya.
Kegiatan SLI Tematik 2026 tersebut dihadiri Wakil Ketua Komisi V DPR RI dari FPKB Syaiful Huda, anggota DPRD Kabupaten Karawang dari PKB Anggi, Mulyana dan Lili Mahali, perwakilan BMKG, Kepala DPKPP Kabupaten Karawang Rohman, serta peserta SLI Tematik.
Peserta kegiatan berasal dari kelompok tani, P3A, dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) dari 13 kecamatan di Kabupaten Karawang. (Dharto-JB)