Logo AWAN NEWS

Sepenggal Kisah Mengharukan Jelang Akhir Hayat Rasulullah

S

Super Admin

Wednesday, 26 Aug 2026 | 16:56 WIB • 132 kali dibaca

Sepenggal Kisah Mengharukan Jelang Akhir Hayat Rasulullah

DR Nurzengky Ibrahim, MM., Ph.D., penulis, adalah Dosen Pengajar Ilmu Lingkungan pada Program S2 di UNJ serta pengamat sosial, Kebudayaan dan keagamaan. Ia juga Owner Biro Wisata Buya Ibrahim dan Komisaris Utama PT Bento Citra Lestari. | Foto: Ist/dokpri

Oleh Nurzengky Ibrahim

 

AWAN NEWS --- TAT KALA menjelang akhir hayat, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam (Saw) mengalami sakit dalam waktu agak lama. Keadaan beliau sungguh lemah. Namun, beliau tetap memberikan keteladanan. 

 

Dalam kisah yang penulis angkat ini, akan menunjukkan bahwa beliau selaku pemimpin ummat, sekaligus orang yang begitu mulia namun tetap sederhana dan rendah hati.  Sebagai orang yang diutus oleh Allah menjadi rahmat di alam fana, Rasulullah Saw., pun menjadi sangat layak untuk diikuti kisahnya dan diteladani prilakunya sepanjang masa. 

 

Pada sepenggal kisah di sini, apa yang dilakukan Nabi telah membuat keluarga serta para sahabat beliau sempat terbakar kemarahan. Pasalnya, ada seseorang yang dipandang tega: hendak melakukan qishash atau pembalasan setimpal ke fisik Rasulullah dengan cambuk di bagian dada, tanpa berbaju pula.

 

Ada pun keteladanan yang dicontohkan Rasulullah pada kisah berhikmah ini, bagaimana Rasulullah melakukan qiyas di atas penegakan hukum qishahs bagi dirinya sendiri; Jika barangkali terdapatinya prilaku diri: berkaitan erat dengan penganiayaan (bersifat zhalim/ketidak-adilan) mesti diselesaikan dulu oleh masing-masing insan di muka bumi. Jika tidak diselesaikan --sebelum tiba wafat--, maka pertanggung jawaban di akhirat kelak akan berat dan sangat memberatkan. 

 

**

Alkisah, suatu hari Rasulullah Saw., memanggil Bilal bin Rabah agar mengumpulkan para sahabat ke masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah masjid; Meraka semua merasa rindu setelah agak lama tidak memperoleh taushiyah langsung dari beliau.

 

Para sahabat melihat wajah Nabi berkeadaan pucat. Beliau duduk di mimbar, seperti menahan-tahan rasa sakit yang diderita. Terlihat juga, fisik Nabi keadaannya lemah.  Akan tetapi, beliau bersabda: "Wahai sahabatku semua yang hadir. Pada kesempatan ini aku ingin bertanya; Apakah telah aku sampaikan kepada kalian bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala itu adalah satu-satunya Tuhan yang sangat layak disembah?"

 

Semua sahabat yang ada di situ menjawab; "Benar wahai Rasulullah. Telah engkau sampaikan bahwa sesungguhnya Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak kita sembah."

 

Selanjutnya, Rasulullah Saw., kembali bersabda; "Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada mereka, hanya Engkaulah satu-satunya Tuhan yang layak sekali disembah". Seraya beliau menambahkan sabda bernada pertanyaan, namun setiap apa yang beliau sabdakan selalu dibenarkan para sahabat.

 

Pada akhirnya, sampailah satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat ada yang marah, sedih juga terharu.  Rasulullah bersabda; "Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah Ta’ala. Sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka itu, aku ingin bertanya juga kepada kalian. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan utang tersebut, karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berutang dengan manusia."

 

Ketika itu, semua sahabat terdiam. Dalam hati masing-masing berkata; Mana ada Rasullullah punya utang? “Kamilah yang banyak berutang kepadamu Ya Rasulullah," cetus mereka. Hingga tiga kali Nabi Saw., mengulangi pertanyaan yang sama mendapatkan jawaban yang sama pula.

 

Akan tetapi, seorang lelaki yang bernama Ukasyah, mantan preman yang masuk Islam dan juga menjadi sahabat Rasulullah berdiri. Ia mengatakan; "Wahai Rasulullah... Aku ingin menyampaikan suatu masalah. Kalau masalah ini dipandang sebagai utang, maka aku meminta agar engkau selesaikan. Namun jika bukan utang, menurutku tidak perlulah engkau berbuat apa pun.”

 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

 

Maka Ukasyah pun mulai bercerita; "Aku masih ingat ketika perang Uhud. Pada saat itu engkau menunggang kuda. Kala itu engkau mepukulkan cemeti ke belakang kuda. Akan tetapi, cemeti tersebut tidak kena tepat pada belakang kuda, melainkan mengenai dadaku. Karena, ketika itu aku berdiri berada di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

 

Mendengar itu, Rasulullah Saw berkata; "Sesungguhnya itu adalah utang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal balasan yang sama darimu."

 

Dengan nada suara agak tinggi, Ukasyah pun berkata: "Kalau begitu, aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah". Ungkapan ini disampaikan Ukasyah seolah tidak merasa bersalah. 

 

Akan tetapi, justru sebagian sahabat berteriak marah kepada Ukasyah; "Sungguh, engkau tidak berperasaan wahai Ukasyah? Bukankah baginda nabi sedang sakit..?. Atas ucapan sahabat tersebut Ukasyah terlihat tidak menghiraukan.

 

Beberapa saat berikut, Rasulullah Saw., malah meminta Bilal bin Rabah agar mengambil cambuk di rumah anak beliau, Fatimah binti Muhammad. Bilal pun segera memenuhi perintah Rasulullah.

 

Bilal meminta cambuk itu begitu sampai di rumah Fatimah. Akan tetapi tidak segera diberikan. Fatimah lalu bertanya; "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk tersebut, wahai Bilal?"

 

Bilal menjawab teriring raut wajah serta nada suara sedih; "Cambuk ini akan digunakan oleh Ukasyah untuk menyambuk Rasulullah". Seketika itu pula Fatimah terperanjat. Seraya Fatimah berkata; "Kenapa Ukasyah hendak memukul Ayahku Rasulullah? Ayahku itu sedang sakit. Kalau mamu ia mau memukulkan cambuk, pukullah aku, anaknya".

 

Bilal menjawab dengan suara lirih; "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua". Fatimah kemudian terdiam dan memberikan cambuk kepada Bilal.

 

Setibanya di masjid, Bilal pun memberikan cambuk yang diminta Rasulullah itu kepada Ukasyah. Setelah mengambil cambuk berada di tangan,bUkasyah segera menuju ke hadapan Rasulullah. 

 

Pada saat sama, Abu Bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah... kalau kamu hendak memukul, pukullah aku..! Aku adalah orang yang pertama beriman dengan ajaran yang dismpaikan oleh Rasulullah. Akulah juga sahabatnya pada saat suka mau pun duka. Maka pukul aku saja, jangan Rasulullah yang sedang lemah fisiknya.”

 

Pada saat itu, Rasulullah Saw., menyampaikan sabda; "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini hanya urusan antara aku dengan Ukasyah". Mendengar itu, Ukasyah lalu melangkah lagi menuju ke hadapan beliau. Belum sampai kebagian mimbar, Umar bin Khattab berdiri menghalangi Ukasyah serata berkata; "Wahai Ukasyah. Kalau engkau mau memukulkan cambuk, pukulkanlah ke tubuhku. Dulu memang aku sempat tidak suka mendengar nama Muhammad. Bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya. Itu dulu. Sekarang, tidak boleh ada seorang juga menyakiti Rasulullah Muhammad Saw. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!"

 

Rasulullah Saw., kembali bersabda: "Wahai Umar, duduklah kembali. Dalam hal ini adalag urusan antara aku dengan Ukasyah".

 

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah kembali. Tiba-tiba berdirilah Ali bin Abu Talib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah Saw. Ali menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah ke aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku wahai Ukasyah".

 

Lalu dijawab oleh Rasulullah Saw.; "Duduklah wahai Ali. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

 

Ukasyah semakin dekat dgn Rasulullah. Tanpa disangka, bangkit dua orang cucu kesayangan Rasulullah Saw., yaitu Hasan dan Husen. Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon; "Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami itu sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Kami ini cucu kesayangan Rasulullah. Dengan memukul kami, sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman."

 

Rasulullah Saw., pun berkata: "Wahai cucu-cucu kesayanganku. Duduklah kalian. Ini Adalah urusan antara kakek dengan Paman Ukasyah".

 

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata: "Wah, bagaimana aku memukul engkau ya Rasulullah? Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini..!"

 

Selaku insan terbaik, Rasulullah Saw., meminta kepada beberapa sahabat agar memapahnya turun dari mimbar. Beliau pun didudukkan pada sebuah kursi. Hanya saja Ukasyah dengan suara tegas berkata; "Dulu waktu engkau memukul yang mengenai dadaku, aku tidak memakai baju, ya Rasulullah."

 

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah namun tidak lagi melakukan protes. Dan Rasulullah, sekali pun keadaannya lemah lantas membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yg sangat indah; sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah, pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

 

Kemudian Rasulullah Saw kembali bersabda;  "Wahai Ukasyah, Segeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah SWT akan murka padamu."

 

Ukasyah langsung menuju ke hadapan Rasulullah Saw. Sedangkan cambuk di tangan ia buang jauh-jauh. Kemudian, ia peluk tubuh Rasulullah Saw dengan erat seeratnya; Seraya ia menangis sejadi-jadinya. Di selah-selah isak tangisnya, Ukasyah berkata; "Wahai Kekasih Allah…! Ampunilah aku. Maafkanlah aku. Manusia mana yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah? Sengaja aku melakukannya, agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu... Bukankan Engkau pernah mengatakan; ‘Barang siapa yang kulitnya pernah bersentuhan denganku, maka diharamkan api neraka atasnya.’ Maka, seumur hidup aku bercita-cita untuk dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan termakan api neraka.” 

 

Rasulullah Saw., dengan teriring senyum berkata; "Wahai semua sahabatku. Kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah…"

 

Semua sahabat terharu biru. Mereka pun menitikkan air mata bahagia. Air mata tanda kecintaan kepada Rasulullah. Kemudian, para sahabat bergantian memeluk Nabi Saw. 

 

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad