Logo AWAN NEWS

Perturutkan Hawa Nafsu Sebabkan Kecelakaan Sosial

S

Super Admin

Friday, 07 Aug 2026 | 20:18 WIB 35 kali dibaca

Perturutkan Hawa Nafsu Sebabkan Kecelakaan Sosial

Oleh Asyaro G Kahean

 

AWAN NEWS --- Ada pepatah mengingatkan kita; "Orang pandai, --status akademiknya tinggi--, bisa saja mengalami kegagalan; Orang hebat, --tinggi jabatan mau pun status sosialnya--, bisa saja mengalami kejatuhan atau terpuruk." Sedangkan orang-orang yang selalu rendah hati serta menjaga kesabaran, kerap menemukan solusi: ketika menata kehidupan yang seimbang, menuju peraihan nilai-nilai insani yang lebih baik.

 

Banyak sekali orang yang terperangkap oleh hawa nafsunya sendiri; Hingga menganggap, tindak-tanduk diri sendiri adalah ‘paling benar’. Ia merasa diri ‘paling pandai, juga ‘paling hebat’. Orang semacam ini, seringkali menganggap orang lain dungu; Kurang ilmu, dan bisanya cuma menuntut ini-itu. Sampai-sampai, ketika ada di antara kita yang mengingatkan agar sadar diri; Orang yang terperangkap hawa nafsu sendiri itu, malah memandang: mengingatkan sebagaimana lontaran kebencian dan dianggapnya menebar permusuhan.

 

Orang-orang yang terperangkap oleh hawa nafsu sendiri, dapat saja muncul dari kalangan inletektual yang bertitel akademik tinggi, tamatan perguruan tinggi pula; Dan dapat juga, munculnya dari kalangan pejabat karir berjenjang (birokrat: struktural mau pun fungsional), politisi (terpilih dari suara rakyat), pengusaha nakal (dari berbagai bidang usaha), juga kalangan professional curang mau pun pelaku kezhaliman lainnya.  

 

Pada intinya, orang-orang yang terperangkap hawa nafsu sendiri: tidaklah ditentukan dari kalangan mana asalnya; Melainkan, mereka adalah orang-orang yang sesungguhnya tergiur dengan kenikmatan dunia secara berlebihan. Sehingga, orang tersebut hatinya lebih cenderung mengemas pikiran pada wahana: seakan-akan kenikmatan dunia lebih indah lagi menyamankan dari pada kenikmatan al-Jannah yang dijanjikan oleh Allah selaku Alkhaliq Yang Mahakuasa atas apa pun.

 

Bila saja hati dan pikiran seseorang telah terselimuti oleh ‘kehangatan’ hawa nafsunya, maka yang pertama runtuh dan berubah dalam dirinya adalah cara pandang. Hal demikian dapat menjadi tengara: ada egoistis yang berkembang menuju pada sikap hedonism; Merupakan jelmaan dari sifat angkuh yang menggerogoti nilai keseimbangan dan keadilan, dalam konteks adabiyah di arena kehidupan sosial. 

 

Sehingga, ketika orang tersebut memasuki ranah sosial --yang cenderung dijadikan alat ukur--, tak lain: keuntungan duniawi bagi diri dan konco-konconya sendiri. Sedangkan kekuatan jabatan atau status sosial yang melekat pada orang tersebut, sekaligus menjadi alat penghancur adab (etika, akhlak, mau pun tata krama); Sedangkan wilayah keadilan yang lebih mendamaikan, berupaya dikoyak-koyaknya demi memperturutkan hawa nafsu. Na’udzubillah….

 

Uraian singkat di atas, secara implisit mencakup akan adanya orang pandai --bahkan akademisi bertitel tinggi-- yang gagal mencegah kejahatan hawa nafsu. Demikian pula halnya, banyak juga pejabat negara yang justru memperkuat peran hawa nafsu masing-masing untuk menumbuh-suburkan kecurangan hingga tindak-tindak koruptif; Sehingga, nilai-nilai keadaban pun dirusaknya dan keadilan hukum berbatas pada slogan belaka. 

 

Keadaan tersebut menunjukkan, orang-orang yang rendah hati sekaligus menjaga kesabaran secara istiqamah, cenderung kalah pamor dengan mereka yang memperturutkan hawa nafsu. Oleh sebab itu, ummat Islam mestinya merasa dipicu oleh keadaan: agar selekas-lekasnya meningkatkan kesadaran diri masing-masing. Sadar sesadar-sadarnya. Pasalnya, jika mengikuti hawa nafsu telah terbukti nyata sebagai penyebab kecelakaan dan kerusakan di ranah sosial. (*)