Kompetisi Kedamaian
Foto: Istimewa/dok-pri
Oleh Asyaro G Kahean
KEDAMAIAN, JADIKANLAH sebuah kata kunci dalam upaya kita merengkuh apa pun yang bernuansa surgawi. Ia sesungguhnya jauh dari pada hingar-bingar perseteruan, penyelewengan wewenang, duka nestapa, penganiayaan, pemerkosaan, perampasan hak, pembunuhan karakter, terror, serta aneka ragam kebiadaban.
Kedamaian, jadikanlah sebuah kata hidup dalam upaya kita meraih bahagia. Ia sesungguhnya sangat santun, tanpa pernah mengusik atau menyentuh sifat-sifat zhalim dan kesia-siaan. Karena, kedamaian itu juga merupakan benih aneka buah-buahan firdaus yang menyegarkan.
Kedaiaman, ajaklah serta ke mana pun berpergian. Ia sesungguhnya amat romatis, tanpa pernah meremuk dan meremas-remas jiwa. Karena, kedamaian itu juga merupakan aneka benih cita rasa.
Kedamaian, buatlah ia sebagai poros dari pancaran dalam suatu lingkaran proses kehidupan. Ia sesungguhnya telah menciptakan kompetisi besar dari jutaan sel sperma pada pencapaian ovum dengan menorehkan catatan; Yang berhasil bersemayam di organ rahim adalah yang paling berkualitas. Sedangkan berjuta-juta sel yang tidak berhasil itu, tetap bersikap santun tanpa mencela takdir atas proses penciptaan.
Kedamaian, kemudian dapatkanlah pada wujud tangis jabang bayi! Ia sesungguhnya berkeadaan fithri. Sehingga, pantas disambut dengan teramat haru yang dimuati rasa suka-cita.
Kedamaian, kemaslah sebagaimana ibunda yang begitu rela memberikan air susunya untuk menguatkan dan mengembangkan tulang-belulang, persendian, daging, serta lancarnya napas dan aliran darah pada tubuh putra-putrinya. Ia sesungguhnya begitu ikhlas memberikan yang paling berharga untuk masa depan generasi penerusnya.
Kedamaian, haruskah diracik dengan konspirasi, ucapan, aturan, gaya serta tindakan yang bersifat semu bercitakan duniawi belaka? Bila ia diracik dari hal-hal yang bersifat semu semata, maka rasanya perlu dikhawatirkan bahwa kedamaian itu terluka. Dan bila saja bangun kesemuan itu dibiarkan, maka pula berisiko pada kedamian yang terkulai alias letoy dalam siklus lemah-melemahkan.
Kedamaian, tidaklah dapat tegak sempurna dengan sendirinya. Ia perlu dijaga melalui proses pendidikan bersidhralul munthaha. Ia perlu iringan sikap arif lagi santun budi; Dari mereka yang luas ilmunya, kuat iman dan mentalitasnya, serta memiliki kehati-hatian tingkat tinggi dalam berencana, bertutur, berstrategi, hingga bertindak.
Maka cernalah bahwa kedamaian adalah bagian inti atas suatu missi besar kehidupan bersama. Padanya: tanpa penzhaliman, pemerkosaan atas jiwa, penyelewengan wewenang, juga tanpa pemaksaan kehendak yang hanya berbalutkan ekonomi serta kerakusan duniawi belaka.
Oleh karenanya, kedamaian sangat perlu tegak dan ditegakkan dalam kebersamaan: tanpa mengakal-akali hal-hal yang terkait dengan sendi-sendi keadilan. Tak lain tak bukan, bahwa kedamaian semata-mata menjunjung tinggi keadaban dan akhlaqul karimah. Titik!
Allahu a’lam bish-shawab. Moga manfaat.